Puisi~~

Assalamu’alaikum…

Temen-temen, kayaknya untuk sekarang aku gak bisa bikin cerbung deh… Karena aku udah sibuk, nih―ciaa, anak smp :9―jadi, sebagai gantinya, aku buat puisi untuk kalian! Sebenernya puisi ini aku buat waktu aku masih kelas 5, sih. Selamat membaca puisi! 🙂
___________________________________________-
Namaku Alam
Aku mendengar keceriaan
Dari lapangan yang hijau
Dan angin yang menghembuskan
Udara yang amat meyegarkan
Rumput seakan-akan menari diterpa angin
Awan layaknya lukisan di langit
Tapi kini…
Muncul sebuah kepulan yang hitam pekat
Memenuhi langit
Langit yang dulunya cerah
Kini tertutup oleh pekatnya udara
Dan panasnya sinar surya
Keceriaan itu kini tinggal kenangan
Hanya suara batuk dan bising yang terdengar
Aku tak ingin berubah, atau diubah
Tolong…
Hargai dan jagalah aku
Aku tidak suka diperlakukan seperti ini
Atau kalian lah yang akan menerima akibatnya
Perkenalkan, namaku
Alam
__________________________________________________
Kayaknya itu lebih pantes disebut syair, ya, daripada puisi. Ya begitulah, maaf, hanya satu. Kali ini aku bener-bener minta maaf. Sampai jumpa―entah kapan, maaf. Bye2

Wassalamu’alaikum! 😉

Advertisements

Kun Anta

Apa kamu bisa menebak arti kata diatas? Kalau bisa, ya sudah. Kalau gak bisa, aku kasih tahu, deh…‘Kun Anta’ dalam bahasa Arab berarti jadilah dirimu. Kalo di bahasa inggris, sih, be yourself. Yap! Kali ini, aku akan membahas ini.

Sering kali, karena beberapa faktor, kita jadi jaim alias jaga image. Kalo faktornya karena kesopanan, sih, nggak apa-apa. Tapi, kalo hanya demi penampilan atau sifat, kayaknya buruk, deh. Alias nggak baik. Karena, kita jadi bukan diri kita sendiri.Contohnya, kalo kamu di rumah, pasti rame. Banyak bicara, humoris. Tapi, kalo tiba-tiba di sekolah kamu jadi gak rame kayak dirumah, lebih banyak diem karena jaim, kan capek! Capek! Capeeekkk!

Jadi kesimpulannya, jaim karena penampilan atau sifat, bikin capek. Kalo kamu dirumah humoris, di tempat lain juga seharusnya kamu humoris, kecuali kalo lagi acara formal, baru boleh jaim. Kalo kamu gak jaim, berarti kamu benar-benar menjadi diri sendiri. Kamu sebenarnya gak usah jaim-jaim amat, dan sesuai judul postinganku kali ini, jadilah dirimu sendiri. Kayak aku >o///< *blush*

Emang aneh, sih. Dan, kalo kamu mau jadi diri sendiri, jangan meniru orang lain. Cita-cita, hobi, dll. Misalnya, kamu mengidolakan seseorang di lingkuganmu. Terus, kamu tiru semua yang dilakukannya. Kalo dia cita-citanya ini, terus kamu tiru dia. Pas dia cita-citanya berubah jadi itu, kamu cita-citanya ganti juga jadi itu.

Kalo kamu memang mengidolakan seseorang, catatlah perbuatan baik apa saja yang dia lakukan? Dan perbuatan baiknya itu bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memaksakan dirimu melakukan yang nggak kamu suka.

Mungkin itu saja tips dariku untuk menjadi diri sendiri. Jangan meniru, jadilah diri sendiri, ya!
Wassalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh! ^_^

Hijab? Yes!

Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh! ^_^

Hayooo, siapa diantara kalian semua yang belum pake jilbab?!! Waah, ketahuan nih, yee!!! Hahaha!
Kali ini, aku akan mengulas tentang jilbab alias kerudung. Benda yang sangat mulia, tapi jarang dimuliakan. Jilbab adalah penutup kepala yang panjangnya menutupi dada. Jika jilbabnya tidak menutupi dada—apalagi bagi yang sudah baligh, itu tidak pantas disebut memakai jilbab. Kalo mau pake jilbab,yang niat, ya! Bentuk leher gak boleh keliatan, dan rambut gak ada yang keliatan juga!

Banyak alasan orang yang tidak mau pakai jilbab. Panas? Milih panas di dunia atau panas di neraka? Kuno? Kayaknya di jaman dinosaurus, belum ada jilbab, deh… apalagi alasannya? Nunggu baligh? Biasakan mulai sekarang!! Biar nanti, kalau kalian sudah besar, kalian gak gerah pake kerudung. Apalagi yang sudah baligh, tuh.

Mmm… kalian bilang jilbab hanya selembar kain gak berguna? Lah, itu dia. kan, jilbab hanya selembar kain, jadi apa susahnya pake jilbab? Aku pernah dengar kata-kata ini; sahabat terbaik adalah sahabat yang menuntunmu ke surga. Begitulah. Jadi, sebenarnya, teman itu harus dipilih. Bukan berdasarkan status, tapi berdasarkan sifatnya. Baik, atau malah buruk.

Sekarang memang banyak model jilbab, tapi model yang terbaik adalah yang menjulang sampai dada, dan tidak tembus pandang. Dan cara berpakaian yang syar’i juga diwajibkan. Syar’i itu maksudnya sesuai syariat Islam, menutupi aurat, dan tidak mebentuk lekuk tubuh. Contoh setelan baju yang syar’i : gamis, sarung tangan, kaus kaki, kerudung yang menutupi dada sepenuhnya. Atau bisa juga atasan dan bawahan selama itu tidak membentuk lekuk tubuh.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda”

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya,

1. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia [maksudnya penguasa yang dzalim],

2. Dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium bau wanginya. Padahal bau wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu [jarak jauh sekali]”.

(HR. Muslim dan yang lain).

Ciput yang memiliki tonjolan seperti sanggul juga tidak diperbolehkan. Menurut hadits diatas dikatakan bukan, bahwa orang yang rambutnya berpunuk onta, tidak akan mencium bau surga. Jadi, untuk tante-tante, kakak-kakak, dan adek-adek, kalo pake kerudung yang syar’i, ya….:)

Demikian informasiku, maaf jika ada informasi yang keliru, menyinggung perasaan atau salah ketik,
Wassalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh! ^_^

Hobi

Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh, minna! ^_^

Apa sih hobi itu? Hobi adalah aktivitas kegemaran kita. Contohnya… melukis, membaca, menulis, menggambar, atau bahkan tidur—yah, itu bukan hobi, sih, tapi itu jadi sesuatu yang buruk kalau hobi kita tidur. Orang males, tuh. Hobi bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Jika orang tuamu musisi, mungkin saja itu bisa menularkan semangat musikal kepadamu. Tapi, tidak semua hobi dipengaruhi oleh lingkungan. Contohnya, hobimu bermain musik, tapi orang tua atau keluargamu jarang ada yang mengerti musik.

Menurutku, hobi sebagian besar berasal dari membaca. Jika kamu membaca artikel tentang asyiknya travelling, kamu jadi penasaran dengan tempat-tempat yang dituturkan dalam artikel itu. Akhirnya, kamu suka travelling dan kegiatan itu menjadi hobimu.Hobi juga bisa menjadi asalnya cita-cita. Hobiku menggambar, dan aku suka tentang model-model pakaian. Cita-citaku? Fashion designer! Aku mau memperkenalkan kain batik Indonesia kepada seluruh dunia. Jika hobimu menyanyi dan menari, bisa saja saat besar nanti kamu membentuk girlband. Suka musik? Kamu berbakat jadi musisi!

Tapi, kalian tidak boleh memaksakan kehendakmu. Jika hobimu bermain musik dan kamu tidak diperbolehkan untuk menjadi musisi—kecuali karena alasan yang tidak umum, seperti kepercayaan—, kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa, dan berusaha sekuat mungkin bahwa kamu sangat menyukai musik dan ingin menjadi musisi hebat.

Dan kalian juga harus tetap memperhatikan sekolahmu. Kelak, jika kamu belum bisa menggapai impianmu karena hal biaya, kamu bisa bekerja dulu. Mimpimu menjadi wiraswasta? Mulailah sejak sekarang! Berjualan online menjadi salah satu alternatifnya.

Mungkin sampai disini saja penjelasanku. Terima kasih, maaf jika menyinggung atau salah ketik, dan semoga bermafaaat untuk kalian semua, ya!!

Wassalamu’alaikum warahmatulahhi wabarakatuh!! ^_^

KTS (Kegiatan Tengah Semester)

Setiap selesai UTS (Ujian Tengah Semester), di sekolahku biasanya akan diadakan KTS. KTS diisi bermacam-macam lomba, dan dibagi menjadi dua kategori. Kategori yang pertama, untuk kelas 1, 2, dan 3. Sedangkan kategori yang kedua, untuk kelas 4, 5, dan 6.

Untuk kelas 1, 2, dan 3, biasanya lombanya itu; lomba mewarnai, lari bendera, lari kelereng, dan memasukkan paku ke botol. Kalau yang untuk kelas 4, 5, dan 6, memang ada 4 lomba juga. Tapi, salah satunya biasanya diganti setiap tahunnya.

Lomba yang untuk kelas 4, 5, dan 6 adalah; lari karung, tarik tambang, dan futsal. Untuk tahun ini, lomba keempatnya dalah lomba memasukka bola basket ke keranjang. Kalau aku, paling suka tarik tambang. Sejak kelas 4, aku sudah punya tim. Anggota per-timnya ada lima. Kalau anggota timku sih; Dea, Selvi, aku, Zahra dan Salsa.

Zahra dan Salsa memang sahabatku. Sedangkan Dea dan Selvi, mereka juga sahabatan sama satu orang lagi; Faza. Zahra dan Salsa itu sebenarnya dulu gak akrab-akrab banget sama aku. Trus pada akhirnya, waktu aku kelas 4, kami jadi deket, karena… mm… karena apa, ya? Mungkin, karena kami pada suka Jepang semua.

Oh ya, kami juga bikin kelompok. Memang kedengarannya tuh, ya, kayak anak kecil. Tapi mau gimana lagi? Kami, kan, memang anak kecil. Awalnya, namanya SaFaRa. Tapi, waktu hampir kenaikan ke kelas 6, aku menemukan sesuatu yang pasti disukain sama kedua sahabatku itu.
Sesuatu itu adalah… Japanese Names Generator! Itu bisa membuat nama kalin jadi nama Jepang. Nama Jepangku Fujiwara Izumi, kalo Zahra
Akimoto Aya—kawaii (imutnya)!! X3—, dan Salsa Sakamoto Yumi.

Kalau kalian mau, silahkan cari di google. Ketik ‘Japanese Name Generator’ di kolom search, trus, tinggal klik, deh. Back to the story…
Kami pun mengubah nama kelompok kami, menjadi AYuMi. Aya, Yumi, dan Izumi. Gimana? Bagus, nggak? Hehehe. Kami juga penggemar Detective Conan dan Magic Kaitou. Itu anime, kartun Jepang. Selain dua anime itu, aku juga suka anime-anime yang lain.

Loh, kok jadi ngomongin itu, sih? Yah, biarlah. Pokoknya, semua yang kuceritain sudah diceritakan. Oh ya, Sabtu minggu depan, ada bazaar di sekolahku. Nanti, aku ceritan juga. Maaf kalau ada yang salah ketik, dan Assalamu’alaikum! Bye-bye!!^_^

Pengalaman jadi OSIS

Sekarang, aku sudah kelas 6, minna (semuanya)!! Dan, ada kabar buruknya, lo, jadi kelas 6… aku bakalan ngadepin adek-adek kelas yang tambah centil! Yah, bukan maksudku untuk mengejek, sih, tapi, kayaknya, adek kelasku tuh banyak yang nonton sinetron, deh. Sikapnya berelebihan alias lebay.

Kalian tahu, kan, kalo jadi OSIS, harus jaga kebersihan, apalagi untuk yang sekolah di SDIT kayak aku, harus ada yang mengatur shaf, merapikan sandal anak-anak dan para guru, juga ada yang menjaga bekal titipan orang tua yang diantar saat anak-anaknya shalat.
Repot. Banget. Bingits. Ketua OSIS-nya namanya Faza, wakilnya Nana. Mereka yang mengatur jadwal ‘shift’ OSIS. Misalkan, hari ini tugasku menjaga bekal titipan, jadi, besok aku gak boleh menjalankan tugas yang sama lagi. Besok, aku harus merapikan sandal atau mengatur shaf. Paling repot itu mengatur shaf, karena anak-anak jaman sekarang tambah susah yang mau diatur. Apa lagi yang centil-centil begitu.

Aku jadi tambah sering bertemu dengan anak kecil yang sok. Mungkin kebanyakan nonton sinetron-sinetron di TV. Oh, ya, selain OSIS biasa, ada OSIS yang berlain jenis sama OSIS biasanya. Ada OSIS Infaq. Tugasnya menghitung hasil atau jumlah uang Infaq. Uang yang ditemukan hilang, biasanya akan dimasukkan Infaq juga.

Aku wakil ketua OSIS Infaq, Ketuanya bernama Hanif, laki-laki. Entah kenapa, hanya ada sedikit yang mau bergabung dengan OSIS ini. Oh, iya! Kata temanku, gak enak jadi OSIS Infaq, karena gak bisa istirahat. Perlu kalian ketahui, uang infaq dihitung saat istirahat, setelah tabung infaq dari semua kelas sudah dikumpulkan. Infaq, kan, khusus hari Jum’at, dan istirahatnya agak lebih sebentar daripada istirahat di hari-hari lainnya. Jadi, kadang, yang ngitung infaq—Aku, Hanif, Shafa—terlambat ikut pelajaran terakhir. Begitulah nasib kami, para OSIS Infaq (cielah, bahasanya… lebay banget).

Terus, kemarin, ada presentasi para kakak-kakak pengajar dari GO (Ganesha Operation), jadi, hasil infaq-nya dihitung hari ini. Biasanya, kami menghitung hasil infaq-nya di mushalla, karena sepi. Tapi, presentasi itu menggunakan mushalla dan itu hanya khusus untuk kelas 6. Jadilah, aku harus ikut dan ngitung hasil infaq-nya ditunda.Tadi aku menghitung infaq-nya waktu istirahat, tapi, waktunya nggak cukup. Jadi, aku, Shafa, dan Hanif izin mau ngitung hasil infaq-nya setelah selesai mencatat materi yang diberi Bu Nike, wali kelasku. Tapi, karena waktunya mepet sama waktu anak-anak lain mau shalat, jadilah, kami gak ngitung hasil infaq-nya di mushalla.

Oya, perlu kalian ketahui, kalo mushalla di sekolahku ada 2. Satunya gak dipake, ada di ujung halaman, dan sekarang dijadiin ruang pertemuan. Satunya ada di lantai 3 yang isinya memang hanya mushalla, dan itulah mushalla tempat kami biasanya menghitung uang infaq. Waktu itu, Hanif belum selesai nyatet pelajaran, jadi, dia gak ikut ngitung. Hanya aku dan Shafa. Terus, kami bingung, mau ngitung dimana. Dan akhirnya, kami minta izin untuk memakai ruang pertemuan. Pas lagi ngitung, aku nanya gini ke Shafa “Shaf, di sekolah ini, siapa yang tangannya paling kotor katamu?” Terus, Shafa ngejawab sambil tetap merapikan uang-uangnya, “Gak tahu, ya,” lalu, “OSIS infaq, dong! Uang, kan, banyak bakterinya karena dipegang-pegang orang,” Shafa langsung tegak gerak, “iya, ya,” katanya.

Nih, aku kasih tahu kalian, ya, uang infaq itu bukan hanya harus dihitung, tapi, harus dirapikan juga. Dan, kalo kalian jadi OSIS, harus tegas, ya! Biar adek-adek kelasmu mau dan bisa diatur. Segitu aja untuk hari ini, dan ini bonus ceritaku. Udah, ya! Assalamu’alaikum warahmatulah hi wabarakatuh! ^-^